Sejarah

Proses Berdirinya Ma'had Aly

Awal mula berdirinya Ma’had Aly Nurul Jadid tidak bisa di lepaskan dari sosok KH. Wahid Zaini (pengasuh ke-3 Nurul Jadid) dan KH. Hasan Abdul Wafi (Pengawas PP. Nurul Jadidz). Dari kedua kiai Kharimatik inilah Ma’had Aly lahir.

Ketika menjabat sebagai ketua Rabitha Ma’ahid Islamiyah (RMI), kiai Wahid banyak melakukan terobosan. Seiring dengan visi misi RMI yang ingin mengembangkan pendidikan pesantren, putra ke dua Kiai Zaini Mun’im ini juga menggagas pendirian Mahad Aly sebagai lembaga setingkat perguruan tinggi di pesantren.

Kiai Wahid turut andil dalam perumusan serta pengawalan ide pendirian Mahad Aly yang sempat disampaikan kepada KHR. As’ad Syamsul Arifin (Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo).

Akhirnya, berdirilah Mahad Aly pertama kali di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Bersama adik iparnya, Kiai Hasan Abdul Wafi, Kiai Wahid bahkan pernah menjadi mursyid (dosen) di Mahad Aly Situbondo.

Saat itu mudir pertamanya adalah juga salah satu pendiri Mahad Aly Situbondo, yakni KHR. As’ad Syamsul Arifin. Sepeninggal kiai As’ad, kepemimpinan mudir selanjutnya adalah Kiai Wahid. Di tangan kiai Wahid, banyak orang yang mengakui akan kecanggihan metode dan kealiman beliau.

Tak lama setelah proses berdirinya Mahad Aly pertama di Indonesia, Kiai Wahid-pun juga menggagas pendirian Mahad Aly di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Mudir pertama kalinya adalah KH. Moh. Zuhri Zaini (Pengasuh Ponpes Nurul Jadid sekarang) اطال الله عمره. Mahad Aly Nurul Jadid pun berdiri pada tahun 2006 dengan konsentrasi ilmu dakwah.

Karena kondisi lapangan yang kurang mendukung, Mahad Aly Nurul Jadid sempat mengalami kevakuman. Sampailah KH. Dr. Moh. Romzi Al-Amiri Mannan, S.H., M.H.I di tanah Tanjung pada th. 2010. Beliau merupakan menantu KH. Hasan Abdul Wafi.

“Pantas sekali Kiai Hasan Abdul Wafi itu milih mantu seperti Kiai Romzi. Beliau semuanya bisa. Dengan masyarakat hingga bicara di forum formalpun semua bisa” ujar Kiai Amin Quthbi pada momen Ifitihud Dirosah pada bulan Juni 2021 lalu.

Di tangan Kiai Romzi, Mahad Aly Nurul Jadid mengubah haluan dengan konsentrasi Fiqih wa Ushuluhu. Banyak terobosan dan kemajuan selama kepemimpinan Kiai Romzi.

Pada bulan Oktober tahun 2020, Nurul Jadid mengalami duka mendalam. Sosok kiai Humoris, Produktif dan Kharismatik berpulang ke Rahmatullah terlebih dahulu. Lanjut di kolom komentar. Pada waktu itu, pondok-pondok pesantren di Indonesia mengalami banyak penurunan kualiatas, termasuk di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Hal ini adalah konsekwensi logis dari masuknya kurikulum umum ke dalam pesantren, sehingga banyak di temukan santri-santri yang tidak bisa membaca kitab kuning. KH. Wahid Zaini, pada waktu itu, menyadari betul akan fonomena ini, oleh karena itu beliua berinisiatif untuk mendirikan lembaga khusus mendalami kajian kitab kuning, dan yang di kemudian hari di kenal dengan sebutan Ma’had Aly Nurul Jadid.

Sampai tahun 2015, Ma’had Aly Nurul Jadid memiliki tiga marhalah; Marhalah Ma’had Aly Takhassus, Marhalah I’dadiyah dan Marhalah Tamhidiyah. Ini semua ketika Ma’had Aly Nurul Jadid belum mengajukan peresmian kepada pemerintah. Namun setelah pengajuan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia (KEMENAG), kedua marhalah (Tamhidiyah dan I’dadiyah) ditiadakan dan menjadi lembaga Independen.

Saat ini, Mudir Mahad Aly dijabat oleh K. Muhammad Al-Fayyadl, M.Phil. Beliau merupakan cucu K.H. Hasan Abdul Wafi. Beliau terpilih setelah adanya musyawarah di kelurga  besar Mahad Aly Nurul Jadid.

Butuh Solusi Keagamaan ?

Anda memiliki prblematika keagamaan dan membutuhkan dalil serta penjelasannya ? tanyakan kepada saja. Insya allah akan kami bantu memberikan penjelasan untuk menyelesaikan masalah anda.

Artikel Terbaru

Gulir ke Atas
Chat
1
Assalamualaikum, ada yang bisa kami bantu ?