KONSULTASI

Wajibkah Bagi Suami Mendengarkan Ijab Dari Wali?

Sebagaimana akad merupakan sesuatu yang wajib dalam berlangsungnya pernikahan. Di dalam akad terdapat ijab dan qobul. Ijab adalah lafadz yang ucapkan oleh wali dari calon mempelai isteri. Qobul adalah lafadz yag diucaplan oleh mcalon mempelai suami. PERTANYAAN : Wajibkah bagi suami mendengarkan ijab dari wali? JAWABAN : Wajib IBARAH : لثاني: التلفظ – بحيث يسمعه […]

Hukum Menerima Barang Titipan

Dua hari berlalu, dua hari ini pula pengajian pagi diisi dengan mengaji kitab iqna’ karya syekh Muhammad Asy-Syarbini. Pengajian sedang membahas bab wadi’ah atau barang titipan. Setidaknya ada dua artikel yang akan kami jelaskan sesuai dengan hasil ngaji pagi di Ma’had Aly Nurul Jadid.

Artikel pertama ini, akan mengulas: Hukum Menerima Barang Titipan. Para pembaca dapat membuka dab mengecek sendiri penjelasan kitab yang sedang saya narasikan ini di halaman 96.

Setidak ada empat hukum seseorang ketikan dititipi suatu barang oleh orang lain.

Pertama, hukumnya adalah sunah. Disunahkan untuk menerima barang titipan bagi orang yang dapat melaksanakan amanah, mampu menjaga barang tersebut dan percaya diri dengan keamanahan dirinya. Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim:

والله في عون العبد ما دام العبد في عون اخيه

Artinya: Allah senantiasa menolong hambanya, selama hambanya tersebut menolong saudaranya.

Pendapat sunah ini apabila ada orang lain yang lebih amanah daripada dirinya.

Kedua, sedangkan bila ditempat tersebut tidak orang lain lagi kecuali hanya satu orang itu, maka hukum menerima barang titipan adalah wajib. Akan tetapi, orang tersebut tidak boleh dipaksa untuk mengganti bila terdapat kerusakan pada manfaat barang titipan ataupun tempat penyimpanannya.

Ketiga, hukumnya adalah haram apabila tidak mampu untuk menjaga barang titipan karena hal ini dapat menyebabkan pada rusaknya barang titipan tersebut. Ketentuan ini berlaku apabila pemilik barang tidak tahu akan keadaan penerima barang titipan demikian (tidak mampu). Akan tetapi bila pemilik barang mengetahui bahwasanya penerima barang titpan demikian, (artinya memang sengaja) maka tidak haram.

Keempat, hukum adalah makruh apabila ia saat ini merasa mampu untuk menjaga barang titipan, lalu di masa yang akan datang nanti ia merasa tidak akan mampu atau khawatir khianat akan dirinya sendiri. Pendapat ini sesuai dengan yang ada di dalam kitab Minhaj.

Mungkin cukup sekian penjelasan macam-macam hukum menerima barang titipan sesuai yang ada didalam kitab klasik. Penulis sengaja mencarikannya dari satu kitab, yakni kitab iqna’ karena kebetulan pagi itu pengajian kitab di Ma’had Aly Nurul Jadid membahas ini.

Sekian. Terimakasih.

Penulis: Alfin Haidar Ali

Hukum Menjawab Salam Via Tulisan

Setiap hari senin malam selasa, sekitar pukul 22.30 wib, Ma’had Aly Nurul Jadid memiliki kegiatan wajib, yakni diskusi panel. Diskusi ini wajib diikuti oleh takhossus Ma’had Aly semester empat sampai delapan. Dengan menggunakan kitab panduan kitab tuhfatut tullab karya Syekh Zakariya al-Anshori, para santri menjadi penyajia dan ada pula yang menjadi moderator sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Pada senin (24/01) lalu, diskusi panel membahas bab shalat. Setidaknya ada satu pertanyaan yang akan dibahas pada artikel singkat ini, yakni: bagaimana hukumnya menjawab salam via tulisan?

Langsung saja. Didalam kitab syarqowi juga karangan karya Syekh Zakariya al-Anshori menerangkan dengan gamblang bahwa hukum menjawab salam itu adalah wajib. Sedangkan hukum memulai salam adalah sunah.

)قوله ورد سلام) خرج بذالك ابتدائه فهو سنة وهي افضل من الرد وان كان واجبا

Artinya: -termasuk pekerjaan fardhu kifayah- adalah menjawab salam (pada orang banyak). Terkecuali dari itu adalah memulai salam, maka hukumnya sunah. Dan memulai salam itu lebih utama daripada menjawab sekalipun hukumnya wajib.

Lalu, bagaimana dengan menjawab salam via tulisan? Apakah tetap wajib? Atau memang tidak wajib disebabkan orang yang diberi salam tidak mendengar secara langsung ucapan salam tersebut.

Masih dengan kitab yang sama, yakni kitab syarqowi. Sebuah kitab yang menjelaskan dari kitab tuhfatut tullab. Pada halaman 162 juz satu, diterangkan sebagaimana berikut:

ولو سلم عليه من وراء حائط او ستر او في كتاب او مع رسول و بلغه وجب الرد ويكون الرسول وكيلا عنه في الاتيان بصيغة شرعية

Artinya: andaikan seseorang dibelakang tembok, penutup, atau (menulis) dikitab, atau menitip pesan pada seseorang dan orang itu menyampaikannya, maka menjawab salam hukumnya wajib. Dan seorang utusan itu menjadi wakil dari orang yang menitip salam didalam mengucapkan salam dengan bentuk kata secara syariat. (assalamualaikum war. Wab.)

Jadi, kesimpulannya, tulisan salam via tulisa, contohnya seperti yang ada di whatsapp (WA) / undangan-undangan, maka wajib hukumnya untuk menjawab salam tersebut.

Sekian. Terimakasih.

 

Hukum Mengucapkan Kalimat Istirja’ Bagi Wanita Haidh

Ma’hadAly.Enjhe – Dalam syariat islam, wanita yang sedang haidh diharamkan untuk menyentuh dan membawa mushaf. Sudah banyak kitab-kitab para ulama’ yang menjelaskan hal ini. Diantaranya adalah Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshori dalam kitabnya yang berjudul syarh tuhfatut tullab dalam bab haidh diterangkan sebagaimana berikut:

(وحرم بالحيض كالنفاس) وهو من زيادتي ويأتي بيانه (ما حرم بجنابة) من صلاة وغيرها

Artinya: dan haram disebabkan haidh sebagaimana nifas yakni apa-apa yang diharamkan sebab junub seperi shalat dan selainnya.

Keterangan diatas masih global, bila kita lihat di pembahasan bab junub, kita akan mengetahui bahwasanya membawa dan menyentuh mushaf itu dilarang oleh wanita yang sedang haid. Begini keterangannya:

و يحرم بالجنابة صلاة الا لفقد الطهورين فيصلى الفرض وسجود وقراءة قرآن بقصدها ومسه وحمله الا في متاع

Artinya: dan haram disebabkan junub, yakni sholat, kecuali bagi orang yang tidak menemukan dua alat bersesuci (batu & air) maka ia boleh sholat fardhu, (haram pula) sujud, membaca quran dengan maksud membaca quran, serta menyentuh dan membawa mushaf kecuali (mushafnya) bersamaan dengan barang-barang lain.

Lalu, bagaimana hukumnya membaca kalimat istirja’, yakni kalimat innalillahi wa inna ilaihi roji’un bagi wanita yang sedang haidh. Sedangkan, pembahasan biasa termaktub dalam kitab-kitab fikih adalah larangan menyentuh dan membawa mushaf. Apakah membaca kalimat istirja’ bisa disamakan dengan menyentuh dan membawa mushaf sehingga hukumnya haram pula?

Dalam artikel ini, penulis coba menjawab permasalahan ini dengan menukil keterangan yang ditulis oleh Ulama’ fikih pula.

Dalam kitab Iqna’ karya Syekh Muhammad Khotib asy-Syarbini menerangkan kebolehan membaca kalimat istirja’ ketika terjadi musibah. Kebolehan tersebut apabila ia mengucapkannya tanpa bermaksud membaca al-quran. Karena bila mengucapkannya dengan niat membaca al-qur’an, atau niat membaca al-qur’an dan niat membaca dzikir, maka hukumnya haram mengucapkan kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ketika tertimpa musibah.

Keterangan kitabnya sebagaimana berikut:

(تنبيه) يحل لمن به حدث اكبر اذكار القرآن وغيرها كمواعظه واخباره واحكامه لا بقصد قرآن كقوله عند الركوب سبحان الذي سخر لنا ھذا وما كنا له مقرنين اي مطيقين وعند المصيبة انا لله وانا اليه راجعون وما جرى به لسانه بلا قصد فان قصد القرآن وحده و مع الذكر حرم وان اطلق فلا كما نبه عليه النواوي

Artinya: catatan. Halal bagi orang berhadats besar, yakni membaca dzikir-dzikir yang berupa lafadz di al-qur’an dan selainnya seperti nasehat-nasehat, kabar-kabar dan hukum-hukum al-qur’an, tidak bermaksud membaca al-qur’an seperti perkataan seseorang ketika berkendara: ‘subhanalladzi sakhhoro lana wa maa kunna lahu muqriniin’. Dan ketika tertimpa musibah, membaca ‘Innalillahi wa Inna ilaihi roji’un’ dan lafadz lain yang diucapkan lisannya tanpa maksud membaca al-qur’an. Seandainya ia bermaksud hanya membaca al-qur’an, atau berniat membaca al-qur’an dan berdzikir maka hukumnya adalah haram. Seandainya tidak bermaksud apa-apa (mutlak) maka tidak haram sebagaimana yang diperingatkan oleh Imam Nawawi.

Sekian. Terimakasih.

Penanya: Zafrul Hodaili

Narator : Alfin Haidar Ali

 

Hukum Memakan Kulit Dari Bangkai Yang Tidak di Sembelih Secara Syar’i ?

DESKRIPSI MASALAH

Sebut saja namanya pak Zain. Pak Zain merupakan peternak sapi di desa A. dia memilihara ratusan ekor sapi yang sudah dipelihara selama 10 tahun. Namun suatu ketika terjadi musibah yang menimpa pak Zain, salah satu dari beberapa sapi tersebut kabur ke jalan raya disebabkan pak Zain lupa mengunci kandang sapinya. Alhasil, Sapi tersebut tertabrak mobil kemudian mati. Tidak mau rugi banyak, pak Zain mempunyai inisiatif untuk menyamak kulit sapi yang sudah menjadi bangkai itu dan kemudian mengelolahnya menjadi makanan “kerupuk kulit sapi”.

PERTANYAAN :
Apakah boleh memakan “kerupuk kulit sapi” tersebut mengingat pak zain membuatnya dari kulit bangkai ?

JAWABAN :
-Tidak boleh menurut qoul qodhim
-boleh menurut qoul jadid

IBAROH :
المهذب في فقه الامام الشفعي :
فصل : وإذا طهر الجلد بالدباغ جاز الانتفاع به لقوله صلى الله عليه و سلم [ هلا أخذتم إهابها فدبغتموه فانتفعتم به ] وهل يجوز بيعه ؟ فيه قولان : قال في القديم : لا يجوز لأنه حرم التصرف فيه بالموت ثم رخص بالانتفاع فيه فبقي ما سوى الانتفاع على التحريم وقال في الجديد : يجوز لأنه منع بيعه لنجاسته وقد زالت النجاسة فوجب أن يجوز البيع كالخمر إذا تخللت وهل يجوز أكله ؟ ينظر فإن كان من حيوان يؤكل ففيه قولان : قال في القديم : لا يؤكل لقوله صلى الله عليه و سلم [ إنما حرم من الميتة أكلها ] وقال في الجديد : يؤكل لأنه جلد طاهر من حيوان مأكول فأشبه جلد المذكى وإن كان من حيوان لم يؤكل لم يحل أكله لأن الدباغ ليس بأقوى من الذكاة والذكاة لا تبيح ما لا يؤكل لحمه فلأن لا يبيحه الدباغ أولى وحكى شيخنا أبو حاتم القزويني عن القاضي أبي القاسم بن كنج أنه حكى وجها آخر أنه يحل لأن الدباغ عمل في تطهيره كما عمل في تطهير ما يؤكل فعمل في إباحته بخلاف الذكاة

*Hasil diskusi panel yang diselenggarakan takhossus Ma’had Aly Nurul Jadid. 

Bagaimana Hukumnya Menulis al-Quran Dalam Keadaan Berhadats?

MahadAly.Enje – Ahad (10/08), Mahasantri Ma’had Aly Nurul Jadid Semester Tiga hingga Tujuh telah melaksanakan diskusi panel yang bertempat di Mushollah Al-Amiri (J).

Kegiatan rutin mingguan pada kali ini membahas tentang bab hadats. Pada diskusi tersebut, alhamdulillah, dapat menyelesaikan satu pertanyaan, yakni :

Bagaimana hukumnya menulis al-quran sedang dirinya dalam keadaan berhadats?

Jawaban : di tafshil (diperinci)

A. Apabila Menyentuh tulisan Alquran saat menulis, semua ulama sepakat bahwa hukumnya haram. Imam Nawawi berkata;

إذا كتب المحدث أو الجنب مصحفا إذا كان يحمل الورقة أو يمسها حال الكتابة فهو حرام

“Jika orang yang hadas atau junub menulis mushaf dan membawa kertas tulisan tersebut atau menyentuhnya saat menulis, maka hal tersebut hukumnya haram.”

B. Apabila tidak sampai menyentuh al-quran, ulama berbeda pendapat.

Pertama, boleh menulis Alquran tanpa membawa dan menyentuhnya, baik dalam keadaan hadas kecil atau besar.

Kedua, haram.

Ketiga, boleh bagi orang yang dalam keadaan hadas kecil dan haram bagi orang junub atau dalam keadaan hadas besar. Dari ketiga pendapat ini, yang paling sahih adalah pendapat pertama. Imam Nawawi berkata;

وان لم يحملها ولم يمسها, ففيه ثلاثة أوجوه: الصحيح جوازه, والثاني تحريمه, والثالث يجوز للمحدث ويحرم على الجنب.

“Jika tidak membawa atau menyentuh tulisan saat menulis, maka ada tiga pendapat; pertama, boleh. Ini yang sahih. Kedua, haram. Ketiga, boleh bagi orang yang hadas kecil dan haram bagi orang junub.”

 

* sumber gambar : nu.online

WAS-WAS DAN SOLUSINYA

DESKRIPSI MASALAH

Jam menunjukkan pukul 11.30 siang. Adzan berkumandang di masjid jami’ Nurul Jadid. Para santri mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat dzuhur berjam’ah. Termasuk Farhani, dia adalah salah satu santri yang istiqomah mengikuti kegiatan shalat berjama’ah. Bahkan farhani selalu datang lebih awal ke masjid dari pada teman-temannya yang lain. Tidak hanya itu, dia juga termasuk orang yang sangat berhati-hati dalam melakukan setiap ibadahnya, kehati-hatiannya kadang sampai membuatnya bimbang perihal ibadah yang dia lakukan, salah satunya seperti sering munculnya rasa bimbang di dalam hati farhani akan kesucian air yang sedikit yang akan digunakannya untuk berwudhu’.

PERTANYAAN :

A. Termasuk kategori apakah perasaan bimbang yang dialami oleh Farhani?
B. Apa perbedaan antara syak (ragu) dan was-was menurut fiqih?
C. Apakah was-was dapat mempenguruhi kesahan ibadah?
D. Apa solusi bagi orang yang terkena penyakit was-was?

JAWABAN :

A. Was-was
B. Syak adalah keraguan yang memiliki asal.
Was-was adalah keraguan yang tidak memiliki asal dan merupakan bisikan syaitan
C. Tidak dapat mempengaruhi
D. Tidak berhati-hati (ترك الإحتياط)

IBAROH :

بغية المسترشدين :
(مسألة: ب): الفرق بين الشك والوسوسة أن الشك هو التردد في الوقوع وعدمه، وهو اعتقاد أن يتقاوم تساويهما، لا مزية لأحدهما على الآخر، فإن رجح أحدهما لرجحان المحكوم به على نقيضه فهو الظن وضده الوهم. أما الوسوسة فهي: حديث النفس والشيطان لا تنبني على أصل، بخلاف الشك فينبني عليه، كأخبار من لا يقبل، وتأخير الصلاة تأخيراً مفرطاً، وكثياب من عادته مباشرة النجاسة، وكالصلاة خلف من عادته التساهل، فالاحتياط مطلوب، فإن لم يكن شيء من ذلك فهي الوسوسة التي هي من البدع كأن يتوهم النجاسة، فالاحتياط حينئذ ترك الاحتياط.

اعانة الطالبين :

(قوله: ولا مؤاخذة) أي لا ضرر في ذلك. وقوله: بوسواس قهري وهو الذي يطرق الفكر بلا اختيار. قال في الايعاب : بأن وقع في فكره أنه لو تردد في الصلاة ما حكمه فلا مؤاخذة به قطعا، وبه يعلم الفرق بين الوسوسة والشك. فهو أن يعدم اليقين، وهي أن يستمر اليقين ولكنه يصور في نفسه تقدير التردد. ولو كان كيف يكون الامر فهو من الهاجس الآتي. وكذا في الايمان بالله تعالى، لان ذلك مما يبتلى به الموسوسون، فالمؤاخذة به من الحرج. اه كردي: (قوله:كالايمان) أي بالله تعالى.وهو بكسر الهمزة .يعني كما أنه لا يؤاخذ بالوسواس القهري في الايمان بالله. وقوله: وغيره أي غير الايمان من بقية العبادات.

* Hasil Diskusi ini dikelola oleh
Forum Kajian Kitab Mahasantri (FK2M)

 

Benarkah Tanda Hitam di Dahi Tanda Keshalehan Seseorang ?

Kesalehan memang merupakan perkara moral yang tidak bisa dipersepsikan dengan indera. Tetapi setidaknya ada indikator (sima) yang menjadi penanda kesalehan seseorang, antara lain sebagaimana disebutkan Allah dalam Alqur’an tentang sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

سيماهم في وجوههم من أثر السجود (الفتح:29)

“Tanda mereka ada di wajah-wajah mereka berupa bekas sujud” (QS. Al-Fath:29)

Pertanyaannya, apakah tanda itu? Sebagian orang memahaminya tanda hitam di dahi yang timbul lantaran banyak bersujud. Tidak dapat disangkal, memang, bahwa tanda hitam di jidat itu menandakan bahwa orang yang bersangkutan banyak bersujud. Tetapi apakah itu yang dimaksudkan Allah dalam ayat ini, tunggu dulu.

Dari redaksinya, jelas ayat itu menyebutkan bahwa tanda itu adanya di wajah (في وجوههم), bukan di dahi yang merupakan bagian dari wajah. Seandainya yang dimaksudkan adalah tanda hitam di jidat pastilah Allah mengatakan: (سيماهم في جباههم). Tetapi ini jelas di wajah. Maka tidak bisa lain yang dimaksudkan adalah sesuatu yang lain selain tanda hitam di jidat itu.

Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘sima’ dalam ayat di atas adalah cahaya wajah (nûr al-wajh), yakni cahaya yg memancar dari wajah seseorang sebagai buah dari banyaknya melakukan shalat-shalat sunnah, terutama qiyam al-lail di sepertiga malam yang terakhir, dan berlama-lama dalam sujud. Kata ‘sujud’ sendiri dalam teks-teks suci agama kerap digunakan dalam arti shalat, misalnya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada seseorang yang memohon kepada beliau untuk menyertai beliau ke surga. Beliau bersabda:

أعني على ذلك بكثرة السجود

“Bantulah aku untuk itu dengan banyak bersujud”.

Tidak bisa lain yang dimaksudkan dengan sujud di sini adalah shalat, sebab tidak boleh ada sujud di luar shalat atau tanpa tilawah atau tanpa maksud bersyukur atas suatu nikmat yang baru turun.

Di sini menjadi jelas bahwa sima yang dimaksudkan dalam ayat adalah cahaya yang memancar dari wajah orang saleh yang sangat menyejukkan saat dipandang. Cahaya itu sendiri bukan cahaya fisik yg bisa dicerna dengan mata kepala, tetapi cahaya spiritual yang hanya dapat dicerna dengan hati (intuisi), sedang mata fisik hanya kebagian rasa sejuk saat memandangi wajah si saleh. Kira-kira itulah ‘aura’ dalam bahasa kontemporer dan itulah ‘sima’ bekas sujud, wallahu a’lam []

 

Penulis : KH. Zainul Mu’in Husni,  Lc (Dosen Mahad Aly Nurul Jadid)

Apa hukum sujud tilawah? Apa yang akan saya baca saat sujud tilawah ?

Jawaban 1:
Sujud tilawah hukumnya sunnah muakkad menurut pendapat yang unggul ( rajih) dari pendapat pendapat ulama’ fikih. Okeh karenanya apabila seseorang mengerjakannya maka ia akan di beri pahala, tapi apabila ia meninggalkannya maka ia tidak di siksa.

Jawaban 2:
Sedangkan bacaan yang di baca dalam sujud tilawah, sama persis seperti yang dibaca saat sujud dalam sholat yakni membaca سبحان ربي الاعلئ sebanyak tiga kali. Kemudian ia berdua dalam sujudnya sebagai berikut :

اَللَهثمَ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ اَمَنْتُ، وَلَكَ اَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللُه اَحْسَنُ اْلخَالِقِيْنَ

Sumber tulisan : Di ambil dari fanspage Catatan Sang Santri milik Ust. Qusyairi, S.E. (Dosen Ma’had Aly Nurul Jadid).

https://www.facebook.com/santrimelenial/?epa=SEARCH_BOX

Kapan Waktu Sholat Witir Jika Sholat Isya’nya di Jama’ Taqdim ?

Penanya:
Kapan waktunya sholat witir apabila saya sholat magrib dan isya’ di jama’ taqdim (mendahulukan waktu isya’ ke maghrib)?

Jawab:
Disini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama’ madzahibil arba’ ( madzhab 4) sebagaimana berikut ini:

1. Madzhab Syafi’i dan Hambali : Waktunya sholat witir di mulai dari setelah melaksanakan sholat isya’. Oleh karena itu apabila seseorang sholat isya’ di jama’ taqdim (dikumpulkan di waktu maghrib) maka ia boleh melaksanakan sholat witir meski belum masuk waktu isya’.

2. Madzhab Hanafi dan Maliki : waktu sholat witir di mulai dari hilangnya Mega merah. Oleh karenanya apabila ada seseorang yang sholat isya’ di kumpulan dengan magrib (di jama’ taqdim), maka ia tidak boleh melakukan sholat witir sebelum adzannisya’ berkumandang.

Berhubungan dalam permasalahan ini adalah masalah khilafiyah ( di perselisikan di kalangan ulama’ ) maka bagi penanya boleh mengikuti pendapat yang mana saja. Namun, alangkah lebih baiknya jika penanya ikut madzhab masing-masing untuk menghindari khilaf tentang bolehnya talfiq.

Sumber Tulisan : Fanspage Catatan Sang Santri milik Ust. Qusyairi, S.E. (Dosen Ma’had Aly Nurul Jadid)

https://www.facebook.com/santrimelenial/photos/a.1026507747506008/1396277973862315/?type=3&theater