Hukum Mengucapkan Kalimat Istirja’ Bagi Wanita Haidh

Ma’hadAly.Enjhe – Dalam syariat islam, wanita yang sedang haidh diharamkan untuk menyentuh dan membawa mushaf. Sudah banyak kitab-kitab para ulama’ yang menjelaskan hal ini. Diantaranya adalah Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshori dalam kitabnya yang berjudul syarh tuhfatut tullab dalam bab haidh diterangkan sebagaimana berikut:

(وحرم بالحيض كالنفاس) وهو من زيادتي ويأتي بيانه (ما حرم بجنابة) من صلاة وغيرها

Artinya: dan haram disebabkan haidh sebagaimana nifas yakni apa-apa yang diharamkan sebab junub seperi shalat dan selainnya.

Keterangan diatas masih global, bila kita lihat di pembahasan bab junub, kita akan mengetahui bahwasanya membawa dan menyentuh mushaf itu dilarang oleh wanita yang sedang haid. Begini keterangannya:

و يحرم بالجنابة صلاة الا لفقد الطهورين فيصلى الفرض وسجود وقراءة قرآن بقصدها ومسه وحمله الا في متاع

Artinya: dan haram disebabkan junub, yakni sholat, kecuali bagi orang yang tidak menemukan dua alat bersesuci (batu & air) maka ia boleh sholat fardhu, (haram pula) sujud, membaca quran dengan maksud membaca quran, serta menyentuh dan membawa mushaf kecuali (mushafnya) bersamaan dengan barang-barang lain.

Lalu, bagaimana hukumnya membaca kalimat istirja’, yakni kalimat innalillahi wa inna ilaihi roji’un bagi wanita yang sedang haidh. Sedangkan, pembahasan biasa termaktub dalam kitab-kitab fikih adalah larangan menyentuh dan membawa mushaf. Apakah membaca kalimat istirja’ bisa disamakan dengan menyentuh dan membawa mushaf sehingga hukumnya haram pula?

Dalam artikel ini, penulis coba menjawab permasalahan ini dengan menukil keterangan yang ditulis oleh Ulama’ fikih pula.

Dalam kitab Iqna’ karya Syekh Muhammad Khotib asy-Syarbini menerangkan kebolehan membaca kalimat istirja’ ketika terjadi musibah. Kebolehan tersebut apabila ia mengucapkannya tanpa bermaksud membaca al-quran. Karena bila mengucapkannya dengan niat membaca al-qur’an, atau niat membaca al-qur’an dan niat membaca dzikir, maka hukumnya haram mengucapkan kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ketika tertimpa musibah.

Keterangan kitabnya sebagaimana berikut:

(تنبيه) يحل لمن به حدث اكبر اذكار القرآن وغيرها كمواعظه واخباره واحكامه لا بقصد قرآن كقوله عند الركوب سبحان الذي سخر لنا ھذا وما كنا له مقرنين اي مطيقين وعند المصيبة انا لله وانا اليه راجعون وما جرى به لسانه بلا قصد فان قصد القرآن وحده و مع الذكر حرم وان اطلق فلا كما نبه عليه النواوي

Artinya: catatan. Halal bagi orang berhadats besar, yakni membaca dzikir-dzikir yang berupa lafadz di al-qur’an dan selainnya seperti nasehat-nasehat, kabar-kabar dan hukum-hukum al-qur’an, tidak bermaksud membaca al-qur’an seperti perkataan seseorang ketika berkendara: ‘subhanalladzi sakhhoro lana wa maa kunna lahu muqriniin’. Dan ketika tertimpa musibah, membaca ‘Innalillahi wa Inna ilaihi roji’un’ dan lafadz lain yang diucapkan lisannya tanpa maksud membaca al-qur’an. Seandainya ia bermaksud hanya membaca al-qur’an, atau berniat membaca al-qur’an dan berdzikir maka hukumnya adalah haram. Seandainya tidak bermaksud apa-apa (mutlak) maka tidak haram sebagaimana yang diperingatkan oleh Imam Nawawi.

Sekian. Terimakasih.

Penanya: Zafrul Hodaili

Narator : Alfin Haidar Ali

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *