Demi Jaga Kualitas, Seluruh Pengurus dan Mahasantri Mahad Aly Laksanakan Tes Baca al-Qur’an

Demi menjaga kualitas bacaan al-Qur’an, seluruh jajaran pengurus beserta mahasantri Ma’had Aly Nurul Jadid laksanakan tes pembacaan al-Qur’an. Tes massal ini merupakan instruksi dari bu Nyai Hj. Nyai Lathifah Wafi. Tes dilaksanakan sejak hari selasa hingga kamis (13-14/07).

Menurut Ust. Fakhruz Rozi selaku ketua tim tes bacaan al-Qur’an, asal mula tes baca al-Qur’an ini adalah ketika bu Nyai Hj. Lathifah Wafi sering mendengarkan bacaan istighotsah dan adzan dengan bacaan yang kurang benar.

“berarti ini menunjukkan ada beberapa santri yang masih kurang fashih bacaan qur’annya. Maka dari itu, perlu adanya tes masal baca al-Qur’an. Baik pengurus atau ustadz maupun mahasantri” ujar pria yang akrab dipaggil dengan ustaz Rosi tersebut.

Pada hari selasa (13/07), tes baca al-Qur’an dilaksanakan bagi pengurus pesantren yang bertempat di kantor Ma’had Aly. Penguji tesnya adalah naib mudir Ma’had Aly, Ust. Suliyanto. Tes dimulai pukul 18.00 WIb (ba’da maghrib) hingga berkisar pukul 18.45 WIB (ba’da isya’).

Untuk hari rabu (17/07) ini, tes dilaksanakan depan musholla al-Amiri (J). Tes dilaksanakan ba’da maghrib hingga adzan isya’ berkumandang. Peserta tes adalah mahasantri yang berada di kamar J-01 sampai J-06. Penguji tes adalah Ust. Kiki Yulianto, Ust. Abdul Waris, Ust. Irpan Husaini, Ust. Qusyari Virgo dan Ust. Taufiqurrahman Sunarto.

Pada esok harinya, tes akan dilaksanakan ba’da dzuhur dengan peserta tes adalalah sisa mahasantri yang belum dites. Untuk malam ini, selain tes baca al-Qur’an dilaksanakan di depan musholla, mahasantri yang tidak tes berada di dalam musholla melaksanakan tahlil bersama untuk memperingati wafatnya salah satu keluarga masyayikh di pondok pesantren al-Amin Sumenep.

Kandungan Emas Dalam Jual Beli Tanah, Milik Siapa ?

Apakah kandungan emas dari tanah yang diperjual belikan yang baru ditemukan setelah tanah tersebut itu menjadi hak milik pembeli ? meskipun si pembeli mengetahi ada harta karun di dalam tanah tersebut sedangkan ia tidak menyampaikan ketika akad.

 

Jawaban :

milik pembeli sebagaimana kesepakatan jual-beli yang telah disepakati.

 

فصل في بيع الاصول والثمار (يدخل في بيع أرض) وهبتها ووقفها، والوصية بها مطلقا، لا في رهنها والاقرار بها (ما فيها) من بناء وشجر رطب وثمره الذي لم يظهر عند البيع، وأصول بقل تجز مرة بعد أخرى، كقثاء، وبطيخ، لا ما يوءخذ دفعة، كبر وفجل لانه ليس للدوام والثبات، فهو كالمنقولات في الدار.

(Fathul Mu’in : 71 Cet. Toko Imam)

(اذَا وُجِدَتْ صِيْغَتُهُ وَالْعَاقِدَانِ رَشيْدَانِ مُخُتَارَانِ وَالْمَبِيْعُ مَمْلَوْكٌ) وَهُوَ مِنْ زِيَادَتِيْ (طَاهِرٌ مُنْتَفَعٌ وَمَقْدُوْرٌ عَلَى تَسَلُّمِهِ مَعْلُوْمٌ لَهُمَا وَلِلْعَاقِدَيْنِ عَلَيْهِ وَلَايَةٌ وَانْقَطَعَ الْخِيَارُ) أَيْ خِيَارُ الْمَجْلِسَ وَ الشَّرْطِ (لَزِمَ) الْبَيْعُ

(Syarqowi ‘Ala Tahriir : 18-19, Cet. Al-Hidayah)

ال المصنف رحمه الله تعالى.

(وان كان في الارض معدن باطن كمعدن الذهب والفضة دخل في البيع لانه من أجزاء الارض وان كان معدنا ظاهرا كالنفط والقار فهو كالماء مملوك في قول ابن أبى هريرة وغير مملوك في قول أبى اسحق والحكم في دخوله في البيع على ما بيناه في الماء وان باع أرضا وفيها ركاز أو حجارة مدفونة لم تدخل في البيع لانها ليست من أجزاء الارض ولا هي متصلة بها فلم تدخل في بيعها)

             (Majmu’ Syarh Muhadzab : Juz 11, Hal. 290)

 

            Mushohhih :

  1. Qusyairi
  2. Syukron Jazila
  3. Irpan Husaini

Hasil Bahtsul Masail : Apakah Jual Beli Barang Antik Termasuk Riba ?

DESKRIPSI MASALAH

Hobi Nyeleneh

Pak tio adalah seorang kepala rumah tangga yang memiliki hobi mengoleksi barang-barang antik. Diantara barang yang dikoleksinya adalah lukisan klasik, barang perabotan bekas milik penjajah belanda, dan uang rupiah pada tahun 90-an. Bahkan untuk melakukan hobinya itu, pernah suatu ketika pak tio membeli 1 lembar uang 5 rupiah dengan harga Rp. 500.000.

 

PERTANYAAN :

Apakah jual beli di atas bisa digolongkan sebagai riba?

Sa’il: Ust. Musta’in Romli

 

JAWABAN :

Tidak termasuk riba karena barang antik bukan termasuk sesuatu yang sah dibuat alat untuk membeli (uang).

عمدة المفتى والمستفتى ج 2 ص 24

(مسئلة) لا ربا فى الفلوس النحاس وإن راجت رواج النقود على الصحيح فى الروضة وأصلها كسائر العروض، إذ الفلوس عرض لا نقد، والربا إنما يجرى فى النقد وهو الذهب والفضة والمطعومات، وعلة التحريم غير معقولة، بل تحريمه تعبدى كما فى التحفة والنهاية وغيرهما. والقول يجريان الربا فى الفلوس مذهب أبى حنيفة، ووجه ضعيف لبعض أصحابنا.

 

توشيخ على فتح القريب المجيب ج 4 ص 29

(بالفلوس وإن راجت رواج النقود) وهذا مبنى على أن المراد بالنقد ما كان من الذهب والفضة خاصة والمعتمد أن المراد به ما يتعامل به فى البلد عادة فيشمل الفلوس والقرطاس اللذين جرت العادة بالمعاملة بهما.

 

Perumus :

  • Ust. Taufiqurrahman
  • Syukron Jazila

Mushohhih :

  • Ust. Ainol Yaqin Mannan
  • Gus Hilman Zidny  Romzi

Rumusan Masalah Bahtsul Masail Sughra

  1. DESKRIPSI MASALAH

Problematika Imam Sholat Idul Fitri

Sebut saja Rofi’iyah dan Nawawiyah. Keduanya merupakan nama dari dua ormas besar islam di kota N. dua ormas tersebut biasanya sering berbeda pendapat dalam menentukan waktu dimulai dan berakhirnya ibadah puasa di bulan ramadhan. disebabkan perbedaan cara ketika menentukannya. Singkat cerita, Di kota N terdapat salah satu tokoh masyarakat yang sangat mashur sebab kealimannya. beliau merupakan ulama’ terkemuka dari kalangan Rofi’iyah. namanya adalah Kiai Faiq. namun suatu ketika, Kiai Faiq diundang untuk menjadi imam shalat idul fitri dari kedua ormas tersebut dengan waktu pelaksanaan yang berbeda. nawawiyah akan melaksanakan shalat idul fitri pada tanggal 29 ramadhan. Sedangkan rofi’iyah pada tanggal 30 ramadhan.

 

PERTANYAAN

Bagaimana status puasa dan shalat idul fitri Kiai Faiq yang dilaksanakan pada tanggal 29 ramadhan?

Sa’il: Ust. Ubaidillah

 

  1. DESKRIPSI MASALAH 

Dinda Si Perempuan Yang Taat

Sebut saja namanya Dinda. dia adalah seorang perempuan yang taat dalam menjalani hukum syariat. Suatu ketika Dinda mengalami musibah. ia terkena penyakit pembengkakan pada daerah kemaluannya. Penyakit tersebut sudah dialaminya selama 2 tahun. Berbagai cara pengobatan telah dilakukan demi kesembuhannya, dari berobat ke rumah sakit, mencoba pengobatan tradisional, bahkan ia pernah berobat ke luar kota. namun suatu ketika, ada kabar baru bahwa di daerah sebelah desanya terdapat seorang tabib handal yang bisa mengobati berbagai macam penyakit. Terbukti, sudah banyak orang yang sembuh setelah berobat kepadanya. Sehingga Dinda tertarik ingin mencoba. Namun disisi lain dia ragu tentang hukumnya sebab tabib tersebut adalah laki-laki.

PERTANYAAN

Apa batasan boleh berobat ke lawan jenis ?

Sa’il: Imam Thabrani, Mahasantri Sem. 5 Ma’had Aly Nurul Jadid

 

  1. DESKRIPSI MASALAH

Hobi Nyeleneh

Pak tio adalah seorang kepala rumah tangga yang memiliki hobi mengoleksi barang-barang antik. Diantara barang yang dikoleksinya adalah lukisan klasik, barang perabotan bekas milik penjajah belanda, dan uang rupiah pada tahun 90-an. Bahkan untuk melakukan hobinya itu, pernah suatu ketika pak tio membeli 1 lembar uang 5 rupiah dengan harga Rp. 500.000.

PERTANYAAN

Apakah jual beli di atas bisa digolongkan sebagai riba?

Sa’il: Ust. Musta’in Romli

 

Empat Pesan Kiai Bayan Yang Perlu Diketahui Masyarakat Luas

MahadAly.Enjhe – Pada hari senin (05/07), Ustaz Syukron Jazila menyampaikan pesan dari KH. Abd. Muien Bayan Mahfudz Zayyadi, Pengasuh PP. Maktuba-Palduding, Madura yang penting diketahui ke masyarakat luas. Kiai Bayan merupakan saudara kandung almarhum Kiai Hamid Zayyadi, ayah dari Kiai Thohir, Pengasuh PP. Mambaul Ulum, Bata-Bata yang wafat beberapa hari lalu.

Ustaz Syukron tidak menerima langsung pesan tersebut, tapi Kiai Bayan menyampaikan pesan ini kepada Kiai Ahmad Barizi selaku menantu dari Almarhum Kiai Mohammad Romzi al-Amiri Manann. Lalu Kiai Barizi menyuruh Ustaz Syukron untuk menyampaik pesan ini kepada para mahasantri Ma’had Aly Nurul Jadid.

Pesan ini disampaikan setelah sholat maghrib berjama’ah dan sebelum pelaksanaan tahlil bersama dalam rangka 40 hari kewafatan Kiai Idrus. Pesan-pesan Kiai Bayan tersebut adalah :

  • Pertama, Jangan menjawab salam orang yang kita kenal, apalagi tak terlihat orangnya.

Dalam keterangan yang disampaikan oleh Kiai Ahmad Barizi, “Pesan ini bermula dari peristiwa yang dialami oleh salah seorang santri Plakpak (sebuah daerah di Utara Palduding, Pamekasan, red) yang habis disapa orang tak dikenal, tak lama dari itu langsung meninggal.

Lalu Kiai Bayan berpesan: ‘kalau ada yang menyapa atau yang memanggil salam tidak kita kenal jangan langsung menjawab, apa lagi tak terlihat orangnya”.” ujarnya.

  • Kedua, Perbanyak baca dzikir lii khomsatun.

“Ketika mendengar kabar Kiai Thohir wafat, Kiai Bayan dawuh: ‘ini bukan penyakit biasa. Santri perbanyak baca sholawat li khomsatun’. “ lanjut kiai Barizi saat dikonfirmasi melalui pesan whatsapp.

  • Ketiga, Terapkan protokol kesehatan. Gunakan masker meskipun ke halaman rumah.

Tak hanya berpesan untuk memperbanyak baca lii khomsatun, Kiai Bayan juga berpesan kepada masyarakat luas  supaya menerapkan protokol kesehatan. Juga gunakan masker meskipun ke halaman rumah saja.

  • Keempat, dianjurkan untuk menempelkan tulisan ini di pintu-pintu.

لَااِلهَ اِلَّا اللهَ اَمَانٌ مِنَ الطَّاعُوْنِ

مُحَمَّدُ الرَّسُوْلُ اللهِ طَعْنٌ فِي الطَّاعُوْنِ

سَيِّدِي عَبْدُ الْقَادِرْ اَلْجَيْلَانِي

سَيِّدِي عَبْدُ الْوَهَّابِ الشَّعْرَانِي

سَيِّدِي شَمْسُ الدِّيْن الحَنَفِي

سَيِّدِي سِرَاجُ الدِّيْنِ الْبُلْقِيْنِ

حَيٌّ صَمَدٌ بَاقِي وَلَهُ كَنْفٌ وَاقِي

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْخَلَاق

Menanggapi pesan Kiai Bayan tersebut, dzikiran menjelang sholat berjamaah di wilayah al-Amiri (J) kini menggunakan bacaan lii khomsatun. Selan itu, santri wilayah al-Amiri (J) juga dihimbau untuk memperbanyak membaca lii khomsatun setiap waktu.

“Selain itu, sebagai jaga-jaga saja, bila kita mendengar suara salam tapi tidak ketemu orangnya jangan di jawab. Khawatir kejadian sebagaimana santri yang ada di Plak pak” pesan ustaz Syukron Jazila dihadapan para santri.

Kontributor : Alfin Haidar Ali

 

Peringati 40 Hari Wafatnya Kiai Idrus, Santri Gang J Baca Tahlil di Wilayah

MahadAly.Enjhe – Dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya almarhum Kiai Idrus, santri gang (J) baca tahlil di musholla wilayah. Tepat ba’da maghrib, pengurus ubudiyah wilayah mengkoordinir pembacaan tahlil bersama ini pada hari senin (05/07).

Menurut Hirzan Anwari selaku salah satu pengurus ubudiyah wilayah al-Amiri (J) mengungkapkan, bahwa tujuan dari pembacaan tahlil ini adalah untuk melaksanakan tradisi amaliyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagaimana mestinya.
“Pembacaan tahlil ini saya pimpin sesuai dengan instruksi dari koordinator ubudiyah, yakni Moh. Irfan Hadi. Sedangkan tujuan dari pembacaan tahlil ini adalah bentuk pengamalan kita sebagai warga nahdliyin terhadap tradisi yang ada di dalam Nahdlatul Ulama (NU)” ungkap pria asal Bali tersebut.

Pembacaan tahlil berakhir sesaat sebelum adzan isya berlangsung. Para santri mengikuti dan melaksanaan tahlil secara khidmat. Akan tetapi tidak semua santri gang (J) mengikuti pembacaan tahlil ini, karena beberapa santri harus mempersiapkan diri untuk mengikuti pengajian akademik yang diampu oleh pengasuh.

“Memang sesaat pembacaan tahlil di mulai, saya dan teman-teman lainnya tidak ikut tahlil di musholla. Karena kami harus persiapan dan berangkat lebih awal untuk mengikuti pengajian di akademik Ma’had Aly yang diampu oleh pengasuh” ungkap Zillul ‘Ain selaku mahasantri Ma’had Aly semester tiga.

Melalui kegiatan tahlil seperti ini, tentunya para santri semuanya mengharapkan supaya almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, diterima semua amalnya dan diampunu segala dosa-dosanya.

Kontributor : Alfin Haidar Ali

Mengenal Nas dan Dzahir di Dalam Ilmu Ushul Fikih

Ilmu ushul fikih adalah ilmu yang membahas tentang dalil-dalil fikih secara global atau metode-metode yang digunakan mujtahid untuk menghasilkan hukum syariat (hukum-hukum fikih). Sebab itu, mempelajari ilmu ushul fikih merupakan hal yang sangat penting terutama bagi para santri yang sedang mendalami ilmu fikih. Ilmu ushul fikih merupakan akar dari tumbuhnya hukum-hukum fikih. Sehingga apabila kita telah mengetahui ilmu ini, pemahaman kita akan lebih kuat dan matang ketika mempelajari ilmu fikih.

Salah satu diantara beberapa pembahasan di dalam ilmu ushul fikih yaitu al-Qawaid al-Ushuliyah al-Lughawiyah. Materi ini membahas tentang kaidah-kaidah tata bahasa. Bahkan menjadi poin yang sangat penting di dalam ilmu ushul fikih. Karena dengannya, makna-makna yang terkandung dalam al-Quran dan al-sunah bisa dipahami.

Kajian di dalam al-Qawaid al-Ushuliyah al-Lughawiyah lebih terfokuskan pada kajian lafadz, makna dan dalalah. Seperti persoalan tentang lafadz am-khas, mutlak-muqayyad, haqiqat-majas, dzahir-nash, musytaraq-mutharadif, amar-nahi, muhkam-mujmal dan mutasyabih.

Dalam tulisan ini, penulis tertarik untuk membahas perbedaan antara nash (نص ) dan dzahir (ظاهر ) di dalam ilmu ushul fikih. Sekedar memberikan pemahaman terkait definisi, contoh atau komponen-komponen lain yang masih berkaitan.

Secara definisi, nash adalah setiap lafadz yang hanya memiliki satu makna (arti). Artinya, lafadz tersebut tidak bisa dipalingkan dari satu makna kepada makna yang lain. Seperti contoh lafadz yang tertera di dalam surat al-Baqarah ayat 196 yang berbunyi :

فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ

Artinya : “Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (musim) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari). Demikian itu, bagi orang yang keluarganya tidak ada (tinggal) di sekitar Masjidilharam.”

lafadz عشرة pada ayat tersebut menunjukkan makna bilangan sepuluh. dilihat dari kepastian lafadznya yang hanya memiliki satu makna, sehingga pemahaman dari lafadz عشرة yang berarti sepuluh tidak bisa dipalingkan kepada jumlah bilangan yang lain.

Sebab itu, lahirlah dari dalil al-quran tersebut sebuah hukum fikih berupa kewajiban berpuasa sepuluh hari bagi orang yang meninggalkan ibadah wajib disaat sedang melakukan ihram ibadah haji sebagaimana yang telah diketahui.

Berbeda halnya dengan dzahir. Dzahir merupakan lafadz yang memiliki dua makna, yang mana salah satu maknanya lebih dominan dari pada yang lain. Dua makna tersebut yaitu makna rajih (makna yang unggul) dan marjuh (makna yang diungguli). Artinya, diantara dua makna tersebut, makna rajih merupakan makna yang lebih kuat dari pada yang lain jika ditinjau dari aspek keterkaitan antara lafadz dan maknanya dalam istilah bahasa arab.

Seperti contoh lafadz اسد yang memiliki dua makna. Jika ditinjau dari makna hakikatnya lafadz اسد berarti hewan buas. Sedangkan secara makna majas berarti laki-laki pemberani. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa arti hewan buas merupkan makna rajih, sedangkan laki-laki pemberani merupakan makna marjuh. Makna singa lebih kuat sebab merupakan makna secara hakikat.

Di dalam kitab Qawaidul Asasiyah Fi Ushulil Fikih karangan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dijelaskan :

وهذا الظاهر اذا اشكل مفهومه حمل الفظ على الاحتمال المرجوح واول عليه بالدليل

Artinya : jika suatu lafadz (dzahir) masih belum jelas pemahamannya, maka lafadz tersebut diarahkan kepada makna yang marjuh serta dita’wil dengan sebuah dalil.

Dalam ibarah tersebut dijelaskan bahwa apabila sebuah lafadz menghasilkan pemahaman yang tidak jelas ketika ditinjau dari makna rajih, maka pemahaman lafadz tersebut bisa dipalingkan kepada maknanya yang marjuh dengan syarat adanya sebuah dalil yang jelas dan kuat.

Proses seperti ini, ulama ushul mengistilahkan sebagai takwil. Takwil adalah pengalihan makna sebuah lafadz dari satu makna ke makna yang lain disebabkan ada dalil. Seperti contoh pada dalam surat al-Qur’an yang berbunyi :

وَٱلسَّمَآءَ بَنَيْنَٰهَا بِأَيْي۟دٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa”. (QS. adz-Dzariat : 47)

Lafadz يد pada ayat tersebut memiliki dua arti. Arti yang pertama yaitu tangan secara jasmani. Arti ini dikategorikan sebagai makna rajih. Kemudian arti yang kedua yaitu kekuasaan. Arti ini dikategorikan sebagai makna marjuh.
Akan tetapi ketika kita memahami konteks dari ayat tersebut, apabila lafadz يد di dalam ayat tersebut dimaknai sebagai tangan secara jasmani, maka akan menimbulkan pemahaman bahwa Allah memiliki tangan. Sedangkan Allah Maha Suci dari sifat tersebut.

Kita ketahui sendiri bahwa Allah memiliki sifat mukholafatuhu lil hawaditsi, yakni Allah berbeda dengan makhluknya. Berbeda dalam segi bentuk, sifat, dan pekerjaannya. Sebagaimana terlampir di dalam surat al-ikhlas yang berbunyi :

وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

“Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. al-Ikhlas : 04)

Maka lebih cocoknya, lafadz يد pada ayat tersebut dimaknai sebagai kekuasaan. Proses penggunaan makna seperti ini menggunakan argumen dalil secara akal (burhan al-aqliyyi). Hasil pemahaman melalui proses seperti ini oleh ulama ushul dinamakan dzahir bid dalil. Yang artinya lafadz tersebut bisa digolongkan terhadap lafadz dzahir setelah dita’wil dengan sebuah dalil yang jelas.

Bisa diambil kesimpulan, kita sebagai pelajar perlu untuk tidak memahami teks al-Quran secara gamblang. Sebab para mujtahid saja untuk menemukan pemahaman yang jelas butuh proses yang begitu panjang. Setidaknya hal ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus belajar lebih giat lagi dalam menuntut ilmu. Untuk menangkis pemahaman-pemahaman keliru yang disebabkan oleh kurangnya kualitas keilmuan kita. Wassalam.

*Imam Thobroni, Mahasantri Semester Lima Ma’had Aly Nurul Jadid

Kerja Sama Pengurus Inti dan Divisi Bakmin, Khitobah Akbar dan Halal bi Halalpun Terlaksana

Ma’hadAly.Enje – Pada Jum’at (25/06) pengurus inti wilayah dan divisi bakat-minat (bakmin) wilayah al-Lathifayah bekerja sama dalam melaksanakan acara Khitobah Akbar dan Halal bi Halal. Acara bertempat di aula baru Wilayah al-lathifiyah dan dihadiri seluruh mahasantri putri Wilayah al-lathifiyah.

Acara yang dimulai pukul 20.00 Wib tersebut menampilkan tiga delegasi khithobah terbaik dari masing-masing marhalah. Marhalah Tamhidiyah diwakili oleh Kholisah Nuriyah, marhalah I’dadiyah diwakili oleh Kholilatun Najah dan takhossus Ma’had Aly diwakili oleh Habibatur Rohmah.

“Khusus tahun ini, acara khitobah akbar dilaksanakan berbarengan dengan acara halal bi halal. Dikarenakan tidak memungkinkannya kondisi waktu yang akan datang. Namun tetap tidak mengurangi eksistensi dari khitobah akbar sendiri. Saya harapkan dengan adanya acara ini dapat menambah minat mahasantri terlebih dalam bidang khitobah  ” Ujar Robi’ah Adawiyah selaku Koordinator divisi bakmin.

Dalam sambutannya, Ny. Hj Latifah Wafi. M, Thi. mengungkapkan tujuan acara ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mahasantri dalam berkhitobah, serta untuk menarik minat mahasantri dalam bidang khitobah.

“Sebab tak bisa dipungkiri khitobah merupakan salah satu sarana dalam penyebaran agama” ungkapnya dihadapan para mahasantri putri.

Selain itu, pelaksanaan halal bihalal yang seharusnya diselenggarakan di awal masa pembelajaran baru bisa dilaksanakan pada malam tersebut, disebabkan dengan adanya beberapa acara yang berbenturan.

Meski demikian, pelaksanaan acara ini tetap tidak mengurangi antusiasme para mahasantri dalam mengikuti acara tersebut. Diakhir acara dibacakan juara khitobah yang dimenangkan oleh Kholisah Nuriyah delegasi dari marhalah Tamhidiyah.

Kontributor : Kholilah

Editor : Alfin Haidar Ali

Mengenal Konsep Kafaah Dalam Islam

Islam termasuk agama yang memuliakan perempuan. Agama islam sudah mengatur segala hal yang berkaitan dengan perempuan dari  hak-hak, kewajiban, dan hukumnya. Bahkan di dalam al-quran terdapat surat an-nisa’ yang banyak menjelaskan berbagai macam hal yang berkaitan dengan perempuan.  Salah satunya seperti bunyi ayat di dalam Qs.An-nisa’ ayat 1 :

يااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِه وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Artinya : Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Salah satu ajaran syariat yang menunjukkan kemuliaan bagi perempuan adalah konsep hukum kafa’ah (kesetaraan). Kafaah bisa dipahami sebagai kesetaraan antara suami dan isteri. Konsep kafa’ah di dalam perkawinan merupakan faktor yang menjunjung tinggi keadilan perempuan untuk menghindari kegagalan di dalam menjalani  rumah tangga. Para ulama fiqih banyak menyinggung tentang tujuan di syariatkannya kafa’ah.

Salah satunya Seperti keterangan yang dibahas oleh Syaikh Abu Bakar Syato di dalam kitabnya I’anathu Thalibin :

الكفاءة المعتبرة في النكاح لدفع العار و الضرر

Artinya : kafa’ah diperhitungkan di dalam pernikahan karena untuk menolak kecacatan dan bahaya.

Disana dijelaskan bahwa tujuan diperhitungkannya kafa’ah di dalam pernikahan adalah untuk mencegah terjadinya bahaya dan kecacatan hubungan di dalam rumah tangga. Dalam syariat islam, kafa’ah merupakan sesuatu yang diperhitungkan di dalam pernikahan. Namun tidak termasuk dari syarat sahnya nikah. Kafa’ah merupakan hak yang di miliki oleh perempuan dan walinya.

Seperti keterangan yang terdapat di dalam kitab Fathul Mu’in karangan Syaikh Zainuddin Bin abdul Aziz Al-Malibari :

وهي معتبر في النكاح لا لصحتها بل لانه حق للمرأة و الولي

Artinya : kafa’ah merupakan sesuatu yang diperhitungkan di dalam pernikahan, bukan untuk kesahan nikah. Akan tetapi karena kafaah merupakan hak bagi seoarang perempuan dan walinya.

Namun keterangan tersebut tidak sampai meniadakan bahwa kafa’ah terkadang menjadi syarat di dalam kesahan nikah. Seperti contoh di dalam kasus permasalahan wali yang menikahkan anak perempuannya yang masih perawan secara paksa. Maka di dalam kasus demikian kafa’ah menjadi syarat kesahan nikah. Seperti keterangan yang ada di dalam kitab Fathul Mu’in :

فان زوجها المجبر اي الاب او الجد لغير كفء لم يصح النكاح

Artinya : maka jika wali mujbir (wali yang boleh memaksa anak perempunya untuk menikah) yaitu bapak dan kakeknya menikahkan anak perempunnya yang masih perawan dengan laki-laki yang tidak sekufu’(sepadan) , maka pernikahannya tidak sah.

Hal yang menjadi tolak ukur di dalam kafa’ah adalah keadaan calon suami. Apakah calon suami setara dengan calon isterinya atau tidak ?. Hal yang dijadikan perhitungan di dalam kafa’ah terbagi menjadi lima. Diantaranya adalah kemerdekaan, terjaga agamanya, nasab, profesi, dan terbebasnya suami dari aib nikah.

Seperti penjelasan di dalam kitab Nihayatuz Zain karangan Syaikh Nawawi Al-Banteni :

احدها حرية في الزوج وفي الباء و ثنيها عفة عن الفسق فيه وفي الاباء و ثنيها عفة عن الفسق فيه و في ابائه و ثاليثها نسب والعبرة بالاباء كالاسلام ورابعها حرفة فيه او في احد من ابائه وهي ما يتحرف به لطلب الرزق من الصنائع و غيرها و خامسها سلامة للزوج من العيوب المثبتة للخيار

Artinya : pertama yang diperhitungkan di dalam kafaah adalah kemerdekaan suami dan bapaknya. Yang ke dua adalah sifat iffah (terjaga agamanya) dari sifat kefasikan di dalam dirinya dan bapaknya. Yang ke tiga adalah nasab. Yang diperhitungkan yaitu status ayahnya. seperti bapak yang beragama islam. Yang ke empat adalah profesi, merupakan profesi dalam mencari rezeki seperti pekerjaan.  Yang kelima selamatnya suami dari aib-aib pernikahan yang memperbolehkan untuk khiyar.

Di terangkan bahwa yang menjadi perhitungan di dalam kafa’ah terbagi menjadi lima, diantaranya :

  1. Sifat merdeka

Maksudnya sifat merdeka yang dimiliki calon suami dan ayahnya. maka budak laki-laki tidak setara dengan perempuan yang merdeka, atau laki-laki yang ayahnya budak tidak setara dengan perempuan yang ayahnya merdeka.

  1. Sifat iffah

Maksudnya sifat iffah calon suami dan ayahnya. Yang dimaksud dari iffah adalah  terpelihara dari sifat fasik dan bid’ah. Maka laki-laki fasik tidak setara dengan perempuan yang iffah. Juga lak-laki yang ayahnya fasik tidak setara dengan perempuan yang ayahnya memiliki sifat iffah.

  1. Nasab

Maksudnya adalah suami yang memiliki nasab yang baik dari jalur ayah. Berupa keturunan bangsa arab, suku quraisy, bani hasyim dan bani muthallib. Maka laki-laki yang bukan keturunan bangsa arab tidak setara dengan wanita keturunan arab. Laki-laki arab yang bukan keturunan bangsa quraisy tidak setara dengan perempuan bangsa quraisy.

  1. Profesi

Maksudnya profesi yang dimiliki suami dan ayahnya tidak sampai mengurangi muru’ah (kehormatan). Maka laki-laki yang memiliki profesi tukang sapu tidak setara dengan perempuan yang berprofesi sebagai  sebagai tukang jahit.

  1. Selamat dari aib

Maksudnya adalah selamatnya calon suami dari aib-aib di dalam pernikahan yang dapat memperbolekan khiyar (memilih meneruskan atau merusak akad nikah). Seperti gila,impoten, kusta dan selainnya. Maka laki-laki gila tidak serata dengan perempuan yang waras.

Bisa diambil kesimpulan bahwa semua keadaan selain lima perkara yang telah disebutkan di atas tidak menjadi perhitungan di dalam kafa’ah. Semisal laki-laki yang bodoh tetap setara dengan perempuan yang cerdas. Laki-laki yang buruk rupa tetap serata dengan perempuan cantik. Namun perlu diingat kembali, bahwa kafa’ah merupakan hak seorang wanita dan walinya. Dan boleh bagi mereka berdua untuk mengugurkan hak kafa’ahnya. Seperti yang dijelaskan di dalam kitab fathul muin :

فلهما اسقاطها

Artinya : boleh bagi perempuan dan walinya enggugurkan hak kafa’ah.

Semoga artikel sederhana ini bisa bermanfaat, kritik dan saran selalu kami harapkan untuk perbaikan kedepannya demi mencapai hasil yang lebih baik. Wassalam.

*Hasil musyawarah FK2M via Online pada hari Jum’at, 07 Mei 2021. Ditulis oleh Imam Thobroni.